Tampilkan postingan dengan label mengatasi masalah keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengatasi masalah keuangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

keuangan di rumah sakit

Permasalahan Rumah Sakit
Potensi Permasalahan SIRS, Suatu Aplikasi SIRS yang andal apabila dapat mengantisipasi adanya perubahan dalam SOP , Kebijakan, peraturan-peraturan atau adanya pengembangan subsistem dalam rumah sakit.

Berikut ini saya akan menampilkan beberapa perubahan terbanyak yang seharusnya terjadi/ tidak dapat dihindari (karena perubahan tersebut dapat meningkatkan citra rumah sakit) , tetapi dapat menimbulkan permasalahan pada Aplikasi SIRS (asumsi telah mempunyai Aplikasi SIRS/SIMRS):
  • Pelayanan Registrasi yang awalnya registrasi hanya diloket kemudian dikembangkan menjadi registrasi dibeberapa tempat atau registrasi online.
  • Pelayanan obat rawat inap yang awalnya menggunakan sistem peresepan berubah menjadi penggunaan CPO (catatan pemberian obat) pada ODDD atau OUDD
  • Perubahan tarif pelayanan maupun pola tarif.
  • Peningkatan status klas/tingkat rumah sakit maupun adanya akreditasi rumah sakit
  • Adanya Aplikasi pihak ketiga misalnya dari pemasok BAKHP/KSO atau Penjamin.
  • Perubahan monitoring dan evaluasi indikator kinerja rumah sakit
  • Penerapan ISO terakreditasi atau atau pengembangan standar pelayanan internasional lainya
  • Penataan catatan medik dan data pelanggan
  • Pengendalian Fraud atau Abuse dari aspek rumah sakit, pelanggan atau penjamin
  • Perubahan pengukuran kinerja /pengganjian pegawai/karyawan
AKUNTANSI DANA

Dalam akuntansi rumahsakit, sekurang – kurangnya ada 4 macam dana yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Dana Operasional
2. Dana untuk bangunan (gedung, lab, gusang dll)
3. Dana untuk keperluan khusus
4. Dana bantuan (dari donor, kalau ada)
1. Dana Operasional.

Semua kegiatan sehari–hari yang memerlukan dana termasuk dana operasional. Disebut juga: “general Fund”.

Apabila ada dana yang tak dapat dimasukan dalam kategori dana–dana 2, 3, dan 4, maka dana tersebut diklasifikasikan sebagai dana umum, atau dana operasional. Pendapatan rumahsakit yang berasal dari pasien, baik yang dibayar langsung oleh pasien, atau oleh pihak ketiga (asuransi) atau perusahaan tempatnya bekerja , dana dari cafetaria dll, semua dimasukan dalam kategori dana operasional. Demikian pula pengeluaran–pengeluaran umpamanya sewa, biaya alat atau barang keperluan pasien, semua dimasukan kedalam dana operasional.

2. Dana Pembangunan ( Plant Fund)

Tidak saja dana untuk gedung, gudang dll yang dimasukkan kedalam kategori Plant Fund ini, tetapi juga tanah peralatan yang memerlukan biaya besar, masuk plant fund. Dalam plant fund tidak saja pengeluaran uang yang bisa terjadi, namun pemasukan juga dapat terjadi, umpanya pada pembelian/ penjualan/pertukaran tanah, bangunan dan peralatan yang mahal. Untuk mengetahui hal itu diperlukan analisa data statistik yang ada.

3. Dana untuk kegunaan khusus (Specific Purpose Fund)

Umpamanya dana yang berasal dari bantuan, donor, grant jadwal, sehingga sangat terbatas waktunya, dan spesifik penggunaannya. Dana ini harus masuk juga dalam sistem akuntansi rumah sakit dengan pencatatan khusus. Karena sifatnya yang sangat khusus, untuk mengevalusainya lebih mudah, karena kegunaan dan pemakainanya sudah tertentu dan khusus.

4. Dana Bantuan atau Endowment Fund

Adalah dana pemberian dari donor. Dana ini bersal dari donor yang investasi sifatnya. Dana ini pemakaiannya tertentu. Hasil investasi, dapat dikembangkan untuk keperluan operasional.


Dalam akuntansi dan sekurang–kurangnya adalimahal lain yang perlu pula mendapat perhatian khussu kita, yaitu :

1. Uang Pemasukan ( Revenue)

Semua uang pemasukan akibat biaya yang dibebankan atas pelayanan yang kita berikan kepada pasien, termasuk kedalam kategori uang pemasukan atau revenue.

Pencatatan tentang hal ini sangat penting agar dapat dibandingkan nantinya terhadap biaya–biaya yang diperlukan dalam pemberian pelayanan kepada pasien tersebut (apakah untung atu rugi).


2. Uang pengeluaran (expense)

Gaji pegawai, bahan–bahan, biaya-biaya lain. Semua pembiayaan dalam pelaksanaan termasuk pengeluaran

3. Aset.

Semua barang yang dipunyai dan dipergunakan oleh rumah sakit yang ada nilai uangnya, dikatakan aset. Investasi jangka panjang, maupun uang pendapatan harian dikatakan adalah aset rumah sakit. Gedung, peralatan dan uang pendapatan harian dimasukan kedalam kategori aset rumah sakit.


4. Jaminan

Hipotik, utang yang belum lunas, maupun barang, alat yang sedang digunakan tetapi belum dilunasi, dikatakan jaminan. Karena pada waktu sedang dipakai tetapi belum sepenuhnya milik rumah sakit, karena masih belum lunas.

5. Modal.

Semua aset yang tidak terutang disebutkan modal RS.

lihat juga : http://caramengatasimasalahh.blogspot.com/2013/08/problem-keuangan-daerah.html

problem keuangan daerah

Pemberian otonomi kepada daerah melalui desentralisasi dalam sebuah negara kesatuan akan membawa resiko-resiko terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan, khususnya mengenai hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Tidak hanya itu, desentralisasi juga dalam praktiknya memberikan pelayanan umum yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis. Namun, praktik desentralisasi justru melahirkan berbagai persoalan di daerah, tidak saja mengenai pengelolaan keuangan, tetapi juga sumberdaya daerah yang lain, yang membutuhkan pengelolaan secara profesional dan sistematis.

Kegagalan pengelolaan sumber daya daerah, selain disebabkan ketidakmampuan daerah menyelenggarakan sistem pengelolaan yang ideal, juga disebabkan karena system tax assigment di Indonesia yang masih didominasi oleh Pemerintah Pusat. Pengelolaan pajak dan retribusi daerah yang tidak ideal, misalnya, selain menyebabkan kegagalan dalam mendorong kemampuan keuangan daerah juga telah menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan baru yang justru menghambat perkembangan ekonomi daerah. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya peraturan daerah yang "bermasalah" yang justru menciptakan iklim yang tidak sehat bagi perekonomian dan pertumbuhan dunia usaha secara umum. Buku yang ada di depan pembaca ini sangat membantu untuk melihat lebih jauh bagaimana implementasi dan pelaksanaan perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah. Khususnya mengenai analisis yuridis, peluang-peluang, sekaligus tantangan daerah dalam mengelola sumber daya yang ada

Sistem pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel itu sudah menjadi kebutuhan dalam rangka terciptanya good governance dan clean government yang menjadi simbol reformasi pemerintahan secara umum. Untuk itu upaya percepatan terhadap keberhasilan pembaruan (reformasi) manajemen keuangan bagi pemerintah daerah sudah selayaknya mendapat perhatian serius... Pengelolaan keuangan daerah sering menghadapi masalah ketika perencanaan dan penganggaran tidak dilakukan dan berjalan dengan baik. Gagal dalam merencanakan sesungguhnya merencanakan sebuah kegagalan. Tulisan berikut ini menguraikan 13 permasalaha dalam perencanaan dan penganggaran di daerah berdasarkan. Edy Marbyanto.

Intervensi hak budget DPRD terlalu kuat dimana anggota DPRD sering mengusulkan kegiatan-kegiatan yang menyimpang jauh dari usulan masyarakat yang dihasilkan dalam Musrenbang. Jadwal reses DPRD dengan proses Musrenbang yang tidak match misalnya Musrenbang sudah dilakukan, baru DPRD reses mengakibatkan banyak usulan DPRD yang kemudian muncul dan merubah hasil Musrenbang. Intervensi legislative ini kemungkinan didasari motif politis yakni kepentingan untuk mencari dukungan konstituen sehingga anggota DPRD berperan seperti sinterklas yang membagi-bagi proyek. Selain itu ada kemungkinan juga didasari motif ekonomis yakni membuat proyek untuk mendapatkan tambahan income bagi pribadi atau kelompoknya dengan mengharap bisa intervensi dalam aspek pengadaan barang (procurement) atau pelaksanaan kegiatan.

Intervensi hak budget ini juga seringkali mengakibatkan pembahasan RAPBD memakan waktu panjang untuk negosiasi antara eksekutif dan legislative. Salah satu strategi dari pihak eksekutif untuk “menjinakkan” hak budget DPRD ini misalnya dengan memberikan alokasi tertentu untuk DPRD missal dalam penyaluran Bantuan Sosial (Bansos) ataupun pemberian “Dana Aspirasi” yang bisa digunakan oleh anggota DPRD secara fleksibel untuk menjawab permintaan masyarakat. Di salah satu kabupaten di Kaltim, dana aspirasi per anggota DPRD bisa mencapai 2 milyar rupiah per tahun.
Pendekatan partisipatif dalam perencanaan melalui mekanisme musrenbang masih menjadi retorika. Perencanaan pembangunan masih didominasi oleh: Kebijakan kepala daerah, hasil reses DPRD dan Program dari SKPD. Kondisi ini berakibat timbulnya akumulasi kekecewaan di tingkat desa dan kecamatan yang sudah memenuhi kewajiban membuat rencana tapi realisasinya sangat minim.
Proses Perencanaan kegiatan yang terpisah dari penganggaran, Karena ketidakjelasan informasi besaran anggaran, proses Musrenbang kebanyakan masih bersifat menyusun daftar belanja (shopping list) kegiatan. Banyak pihak seringkali membuat usulan sebanyak-banyaknya agar probabilitas usulan yang disetujui juga semakin banyak. Ibarat memasang banyak perangkap, agar banyak sasaran yang terjerat.

Ketersediaan dana yang tidak tepat waktu. Terpisahnya proses perencanaan dan anggaran ini juga berlanjut pada saat penyediaan anggaran. APBD disahkan pada bulan Desember tahun sebelumnya, tapi dana seringkali lambat tersedia. Bukan hal yang aneh, walau tahun anggaran mulai per 1 Januari tapi sampai bulan Juli-pun anggaran program di tingkat SKPD masih sulit didapatkan.
Breakdown RPJPD ke RPJMD dan RPJMD ke RKPD seringkali tidak nyambung (match). Ada kecenderungan dokumen RPJP ataupun RPJM/Renstra SKPD seringkali tidak dijadikan acuan secara serius dalam menyusun RKPD/Renja SKPD. Kondisi ini muncul salah satunya disebabkan oleh kualitas tenaga perencana di SKPD yang terbatas kuantitas dan kualitasnya. Dalam beberapa kasus ditemui perencanaan hanya dibuat oleh Pengguna Anggaran dan Bendahara, dan kurang melibatkan staf program sehingga banyak usulan kegiatan yang sifatnya copy paste dari kegiatan yang lalu dan tidak visioner.

Kualitas RPJPD, RPJM Daerah dan Renstra SKPD seringkali belum optimal. Beberapa kelemahan yang sering ditemui dalam penyusunan Rencana tersebut adalah; indicator capaian yang seringkali tidak jelas dan tidak terukur (kalimat berbunga-bunga), data dasar dan asumsi yang seringkali kurang valid, serta analisis yang kurang mendalam dimana jarang ada analisis mendalam yang mengarah pada “how to achieve” suatu target.

Terlalu banyak “order” dalam proses perencanaan dan masing-masing ingin menjadi arus utama misalnya gender mainstreaming, poverty mainstreaming, disaster mainstreaming dll. Perencana di daerah seringkali kesulitan untuk menterjemahkan isu-isu tersebut. Selain itu “mainstreaming” yang seharusnya dijadikan “prinsip gerakan pembangunan” seringkali malah disimplifikasi menjadi sector-sektor baru, misalnya isu poverty mainstreaming melahirkan lembaga Komisi Pemberantasan Kemiskinan padahal yang seharusnya perlu didorong adalah bagaimana setiap SKPD bisa berkontribusi mengatasi kemiskinan sesuai tupoksinya masing-masing. Demikian pula isu gender, juga direduksi dengan munculnya embel-embel pada Bagian Sosial menjadi “Bagian Sosial dan Pemberdayaan Perempuan” misalnya.

Koordinasi antar SKPD untuk proses perencanaan masih lemah sehingga kegiatan yang dibangun jarang yang sinergis bahkan tidak jarang muncul egosektoral. Ada suatu kasus dimana di suatu kawasan Dinas Kehutanan mendorong program reboisasi tapi disisi lain Dinas Pertambangan memprogramkan ekploitasi batubara di lokasi tersebut.

SKPD yang mempunyai alokasi anggaran besar misal Dinas Pendidikan dan Dinas PU seringkali tidak mempunyai tenaga perencana yang memadai. Akibatnya proses perencanaan seringkali molor. Hal ini sering diperparah oleh minimnya tenaga Bappeda yang mampu memberikan asistensi kepada SKPD dalam penyusunan rencana.

APBD kabupaten/Kota perlu evaluasi oleh Pemprop. Disisi lain Pemprop mempunyai keterbatasan tenaga untuk melakukan evaluasi tersebut. Selain itu belum ada instrument yang praktis yang bisa digunakan untuk evaluasi anggaran tersebut. Hal ini berakibat proses evaluasi memakan waktu agak lama dan berimbas pada semakin panjangnya proses revisi di daerah (kabupaten/kota).

Kualitas hasil Musrenbang Desa/Kecamatan seringkali rendah karena kurangnya Fasilitator Musrenbang yang berkualitas. Fasilitasi proses perencanaan tingkat desa yang menurut PP 72 tahun 2005 diamanahkan untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten (bisa via Pemerintah Kecamatan) seringkali tidak berjalan. Proses fasilitasi hanya diberikan dalam bentuk surat edaran agar desa melakukan Musrenbang, dan jarang dalam bentuk bimbingan fasilitasi di lapangan.
Pedoman untuk Musrenbang atau perencanaan (misal Permendagri 66 tahun 2007) cukup rumit (complicated) dan agak sulit untuk diterapkan secara mentah-mentah di daerah pelosok pedesaan yang sebagian perangkat desa dan masyarakatnya mempunyai banyak keterbatasan dalam hal pengetahuan, teknologi dll.

Dalam praktek penerapan P3MD, pendekatan pemecahan masalah yang HANYA melihat ke AKAR MASALAH saja dapat berpotensi menimbulkan bias dan oversimplifikasi terhadap suatu persoalan. Contoh kasus nyata; di sebuah desa di daerah masyarakat dan pemerintah mengidentifikasi bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat disebabkan tidak adanya fasilitas sumber bacaan di wilayah itu. Sebagai solusinya mereka kemudian mengusulkan untuk dibangunkan “gedung perpustakaan”.

Ternyata setelah gedung perpustakaan dibangun, sampai beberapa tahun berikutnya perpustakaan tersebut tidak pernah berfungsi bahkan kemudian dijadikan Posko Pemilu. Mengapa demikian? Hal itu terjadi karena mereka hanya berpikir soal membangun gedung, tetapi lupa berpikir dan mengusulkan bagaimana menyediakan buku/bahan bacaan untuk perpustakaan itu, lupa mengusulkan kepengurusan untuk mengelola perpustakaan itu dll. Kondisi seperti diatas mungkin tidak akan terjadi kalau mereka berpikir dulu soal “outcome” misalnya meningkatkan minat baca 50 % warga masyarakat. Dari outcome tersebut nantinya bisa diidentifikasi output yang diperlukan misalnya: adanya gedung perpustakaan, buku atau bahan bacaan, tenaga pengelola perpustakaan, kesadaran masyarakat untuk datang ke perpustakaan dll. Dari contoh kasus itu nampaknya untuk pemerintah dan masyarakat memang perlu didorong untuk memahami alur berpikir logis (logical framework) sebuah perencanaan. Selain itu pola pikir yang ada yang cenderung berorientasi “Proyek” (yang berorientasi jangka pendek dan berkonotasi duit) menjadi orientasi “Program” (orientasi jangka panjang dan lebih berkonotasi sebagai gerakan pembangunan).

lihat juga : http://caramengatasimasalahh.blogspot.com/2013/08/rambut-rontok.html

Rabu, 22 Mei 2013

cara mengatasi masalah keuangan dalam rumah tangga

Tidak dapat dipungkiri, uang merupakan ‘alat’ yang amat penting untuk melanjutkan kehidupan. Seawal pagi lagi, kita sudah menggunakan uang. Selama perjalanan menuju ke tempat kerja, kita membelanjakan uang untuk membeli sarapan, mengisi minyak kendaraan, membayar tol dan berbagai aktifitas transaksi. Pada akhir pekan pula, kita akan membelanjakan uang untuk berbelanja dan makan bersama keluarga di restoran. Lihatlah, saban hari kita pasti menggunakan catatan kertas atau langit-langit ini. Karena itu, kita perlu mengambil tahu cara-cara untuk mengelola keuangan.

Apakah 5 penyebab utama masalah keuangan ini?

(1) Tidak ada penyimpanan darurat
Penyimpanan darurat adalah hal penting dalam kehidupan Anda. Ini karena, Anda tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada masa depan. Mungkin Anda ataupun anggota keluarga Anda akan ditimpa penyakit atau kecelakaan. Saya mendoakan Anda dan keluarga sehat sejahtera.

Namun, jika Anda memiliki penyimpanan khusus untuk hal darurat, setidaknya beban yang ditanggung tidak terlalu berat. Ia juga dapat memberikan ruang dan pilihan untuk Anda memikirkan tindakan terbaik yang Anda perlu lakukan.

Satu cara yang terbaik adalah dengan membeli asuransi kesehatan. Banyak orang yang kurang peka terhadap pentingnya asuransi kesehatan ini. Tidak rugi Anda membuat persiapan awal dengan membeli asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan tidak hanya dapat membayar tagihan medis dan pembedahan, bahkan Anda juga bisa menggunakannya untuk menolak pajak tahunan dari Lembaga Hasil Dalam Negeri (LHDN).

(2) Tidak dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan
Ini juga satu penyebab utama yang menyebabkan Anda mengalami masalah keuangan. Hampir lebih 60% pembeli mengatakan bahwa mereka membeli sesuai keinginan dan bukan kebutuhan. Anda harus bijak dalam merencanakan pengeluaran agar tidak akan membahayakan diri sendiri di masa depan.

Satu tips yang baik adalah dengan membuat daftar barang-barang yang Anda mau beli. Kemudian, Anda tanyakan pada diri, apakah ini kebutuhan atau keinginan?

Kebutuhan adalah atas benda yang Anda benar-benar perlu untuk memastikan kelangsungan kerja atau tujuan kerja Anda tercapai. Misalnya seperti laptop untuk seorang pelajar. Laptop sangat penting untuk memastikan semua tugas yang diberikan oleh dosen dapat dilaksanakan dengan baik dan dikirim sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Keinginan adalah benda-benda yang tanpanya Anda masih bisa bekerja dan melanjutkan hidup seperti biasa. Misalnya, membeli sesuatu karena mementingkan merek. Sedangkan, masih ada produk yang mampu milik, berkualitas dan mampu membantu Anda untuk mencapai sesuatu tujuan. Istilah ‘biar papa asal bergaya’ tidak seharusnya digunakan.

(3) Tidak mengetahui aliran uang keluar
Sebaiknya, Anda perlu mengetahui setiap aliran uang yang telah Anda belanjakan. Ini adalah untuk memudahkan Anda melakukan perencanaan terhadap pengeluaran yang ingin dilakukan.

Kebanyakan dari kita menggunakan ponsel pintar saat ini, tidak diperhatikan apakah menggunakan platform Android atau Apple. Anda dapat menemukan aplikasi-aplikasi manajemen keuangan seperti ‘HomeBudget’, ‘Piggie’ dan lain-lain. Aplikasi seperti dapat membantu Anda mengidentifikasi aliran uang masuk dan keluar pada setiap hari. Pada setiap minggu dan bulan, Anda bisa mengetahui pola pengeluaran dan seterusnya mengelola pengeluaran dengan lebih baik.

Jika Anda tidak menggunakan ponsel pintar, Anda dapat berlangsung selama 5-10 menit setiap hari sebelum tidur untuk mencatat pengeluaran Anda. Percayalah, Anda akan lebih tenang untuk membelanjakan uang kelak.

(4) Citarasa melebihi kemampuan
Setiap pengeluaran yang dilakukan harus cocok dengan kemampuan Anda. Jangan terlalu mementingkan selera karena ia pasti akan membahayakan.

Dunia konsumerisme yang penuh dengan iklan-iklan di televisi, surat kabar dan berbagai lagi medium pemasaran, menyebabkan para pengguna berlomba-lomba untuk membeli barang bermerek. Jika ada yang menegur-”Wah, kamu mengendarai mobil BMW. Kayanya.”-Pasti timbul perasaan bangga karena orang memuji kita kaya.

Namun, kita perlu bertanya, apakah dengan memakai benda-benda berstatus tinggi ini bisa menyebabkan hati aku tenang? Mampukah aku tidur dengan lena? Jika Anda tenang, tidak terbelenggu dek masalah melunasi utang, itu pertanda kemampuan Anda mutlak. Jika sebaliknya, Anda harus mulai mengukur baju di badan sendiri. Bukankah hidup lebih tenang, jika hidup Anda tidak dibelenggu oleh hutang yang menimbun?

Sebagai renungan, jika kita benar-benar kaya, kita tidak perlu pamer atau mencanang kepada masyarakat bahwa kita kaya. Orang akan tahu dengan sendirinya bahwa kita kaya atau sebaliknya.

(5) Sulit menolak penawaran
Mungkin Anda bukan seorang yang boros, tetapi Anda adalah seorang yang sulit untuk menolak penawaran penjualan terutama dari penjual dikalangan teman atau anggota keluarga.

Anda harus paham, tujuan akhir seorang penjual adalah untuk memastikan barangannya terjual. Ada penjual yang tidak mempedulikan apa-apa alasan yang diberikan oleh pelanggan. Justru, Anda harus cerdas untuk mengontrol situasi ini agar tidak membebani Anda kelak. Berkatalah tidak pada tempatnya.

berikut beberapa tips cara mengatasi nya ; 
1.Pahami portfolio keuangan keluarga Anda. Jangan sampai Anda tak tahu isi tabungan, jumlah tagihan listrik, telepon, servis mobil, belanja, biaya periksa dokter dan lainnya. Anda harus tahu berapa hutang kartu kredit, pinjaman bank atau cicilan rumah dan mobil.

2.Susun rencana keuangan atau anggaran. Rencana keuangan yang realistis membantu Anda bersikap obyektif soal pengeluaran yang berlebihan. Tak perlu terlalu ideal, sehingga lupa kebutuhan diri sendiri. Tak ada salahnya memasukkan kebutuhan pergi ke salon, spa atau clubbing. Yang penting, anggarkan jumlah yang realistis dan Anda pun harus patuh dengan anggaran tersebut.
3.Pikirkan lebih seksama pengertian antara “butuh” dan “ingin”. Tak jarang kita membelanjakan uang untuk hal yang tak terlalu penting atau hanya didorong keinginan, bukan kebutuhan. Buatlah daftar berupa tabel yang terdiri dari kolom untuk item belanja, kebutuhan dan keinginan. Setelah mengisi kolom item belanja, isilah kolom “kebutuhan” dan “keinginan” dengan tanda cek (V). Dari sini pertimbangkan dengan lebih matang, benda atau hal yang perlu Anda beli/penuhi atau tidak.

4.Hindari hutang. Godaan untuk hidup konsumtif semakin besar. Tapi bukan berarti dengan mudah Anda membeli berbagai benda secara kredit. Tumbuhkan kebiasaan keuangan yang sehat dimulai dari yang sederhana, seperti tak memiliki hutang konsumtif.
5.Meminimalkan belanja konsumtif. Bertemu teman lama untuk bertukar pikiran di kafe terkadang memang perlu, tapi tak berarti Anda harus melakukannya di setiap Jumat sore. Anda bisa gunakan pengeluaran ini untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain.

6.Tetapkan tujuan atau cita-cita finansial. Susun target keuangan yang ingin Anda raih secara berkala, bersama pasangan. Tetapkan tujuan spesifik, realistis, terukur dan dalam kurun waktu tertentu. Tujuan ini membantu Anda lebih fokus merancang keuangan. Misalnya, bercita-cita punya dana pendidikan prasekolah berstandar internasional dan sebagainya.

7.Menabung, menabung, menabung. Ubah kebiasaan dan pola pikir. Segera setelah menerima gaji, sisihkan untuk tabungan dalam jumlah yang telah Anda rencanakan sesuai tujuan atau cita-cita finansial keluarga Anda. Sebaiknya, Anda memiliki rekening terpisah untuk tabungan dan kebutuhan sehari-hari.
8.Berinvestasilah! 
Tentu Anda tak akan puas dengan hanya menunggu tabungan membumbung. Padahal cita-cita Anda untuk keluarga “selangit”. Inilah saat yang tepat untuk juga memikirkan investasi. Kini bentuknya macam-macam. Takut akan risiko investasi?! Tak perlu khawatir, Anda hanya perlu belajar pada ahlinya. Konsultasikan keuangan Anda dengan ahli keuangan yang handal!   

Entri yang Diunggulkan

cara mengatasi pikiran negatif terhadap pasangan

Positive Thinking kepada Pasangan Hendaknya kita selalu berpikir positif, melihat hal-hal kebaikan, sisi-sisi kelebihan dari pasangan, buk...